Istri Harus Taat Suami atau Orang Tua ?

Suatu saat, dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik RA dikisahkan  sebagian ahli hadis menyebut sanadnya lemah. Tatkala sahabat bepergian untuk berjihad, ia meminta istrinya agar tidak keluar rumah sampai ia pulang dari misi suci itu. Di saat bersamaan, ayah anda istri sedang sakit. Lantaran telah berjanji taat kepada titah suami, istri tidak berani menjenguk ayahnya.

Merasa memiliki beban moral kepada orang tua, ia pun mengutus seseorang untuk menanyakan hal itu kepada Rasulullah. Beliau menjawab, “Taatilah suami kamu.” Sampai sang ayah menemui ajalnya dan dimakamkan, ia juga belum berani berkunjung. Untuk kali kedua, ia menanyakan perihal kondisi nya itu kepada Nabi SAW. Jawaban yang sama ia peroleh dari Rasulullah, “Taatilah suami kamu.” Selang berapa lama, Rasulullah mengutus utusan kepada sang istri tersebut agar memberitahukan Allah telah mengampuni dosa ayahnya berkat ketaatannya pada suami.

Kisah yang dinukil oleh at-Thabrani dan divonis lemah itu, setidaknya menggambarkan tentang bagaimana seorang istri bersikap. Manakah hak yang lebih didahulukan antara hak orang tua dan hak suami, tatkala perempuan sudah menikah. Bagi pasangan suami istri, ‘dialektika’ kedua hak itu kerap memicu kebingungan dan dilema.

Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah dalam buku Al Jami’ fi Fiqh An Nisaa’ mengatakan seorang perempuan, sebagaimana laki-laki, mempunyai kewajiban sama berbakti terhadap orang tua. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA menguatkan hal itu. Penghormatan terhadap ibu dan ayah sangat ditekankan oleh Rasulullah. Mengomentari hadis itu, Imam Nawawi mengatakan hadis yang disepakati kesahihannya itu memerintahkan agar senantiasa berbuat baik kepada kaum kerabat. Dan, yang paling berhak mendapatkannya adalah ibu, lalu bapak. Kemudian disusul kerabat lainnya.

Namun, menurut Syekh Yusuf al- Qaradhawi dalam kumpulan fatwanya yang terangkum di Fatawa Mu’ashirah bahwa memang benar, taat kepada orang tua bagi seorang perempuan hukumnya wajib. Tetapi, kewajiban tersebut dibatasi selama yang bersangkutan belum menikah. Bila sudah berkeluarga, seorang istri diharuskan lebih mengutamakan taat kepada suami. Selama ke taatan itu masih berada di koridor syariat dan tak melanggar perintah agama.

Oleh karena itu, imbuhnya, kedua orang tua tidak diperkenankan mengintervensi kehidupan rumah tangga putrinya. Termasuk memberikan perintah apa pun padanya. Bila hal itu terjadi, merupakan kesalahan besar.

Pasca menikah maka saat itu juga, anaknya telah memasuki babak baru, bukan lagi di bawah tanggungan orang tua, melain kan menjadi tanggung jawab suami. Allah SWT berfirman, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita). (QS an-Nisaa’ [4]: 34).

Meski demikian, kewajiban menaati suami bukan berarti harus memutus tali silaturahim kepada orang tua atau mendurhakai mereka. Seorang suami dituntut mampu menjaga hubungan baik antara istri dan keluarganya. Ikhtiar itu kini dengan kemajuan teknologi bisa diupayakan sangat mudah. Menyambung komunikasi dan hubungan istri dan keluarga bisa lewat telepon, misalnya.

Alqaradhawi menambahkan, di antara hikmah di balik kemandirian sebuah rumah tangga ialah meneruskan estafet garis keturunan. Artinya, keluarga dibentuk sebagai satu kesatuan yang utuh tanpa ada intervensi pihak luar. Bila selalu ada campur tangan, laju keluarga itu akan tersendat. Sekaligus menghubungkan dua keluarga besar dari ikatan pernikahan. Allah SWT berfirman, “Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Mahakuasa.” (QS al-Furqan [25]: 54).

Ia menyebutkan beberapa hadis lain yang menguatkan tentang pentingnya mendahulukan ketaatan istri kepada suami dibandingkan orang tua. Di antara hadis tersebut, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh al-Hakim dan ditashih oleh al-Bazzar. Konon, Aisyah pernah berta nya kepada Rasulullah, hak siapakah yang harus diutamakan oleh istri? Rasulullah menjawab, “(hak) suaminya.” Lalu, Aisyah kembali bertanya, sedang kan bagi suami hak siapakah yang lebih utama? Beliau menjawab, “(Hak) ibunya.”

Penyakit Hubbud Dunya

1692009-065614pm” Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (Q.S. At-Taubah ayat 34-35).

Allah SWT sangat murka kepada mereka yang melakukan al-kanzu (perbuatan menimbun harta), sebagaimana telah dijelaskan dalam firman-Nya diatas. Namun sering kita salah memahami pandangan-Nya, berkenaan dengan urusan harta duniawi tersebut. Ada dari kita yang menduga, bahwa Islam melarang orang kaya, bahwa mengumpulkan harta itu tercela, saat baru membaca satu ayat itu saja. Banyak juga dari kita yang menganggap : kepapaan itu lebih terpuji daripada kebercukupan, dalam pandangan risalah agama yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW ini.

Kebalikan dari al-kanzu adalah al- ‘afwu, yaitu menginfakkan apa yang berlebih dari kadar kebutuhan pribadi.

 “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.”firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 219.

 Dalam kitab Al Jami li Ahkam al Qur’an, Al Qurtubhi mengutip tafsir dari Imam Abdullah Bin Abbas, Imam Hasan Al Bashri dan Imam Qatadah bin Du’amah As-Sadusi, berkenaan dengan makna ayat tersebut. Tafsirnya adalah “Infakkanlah harta yang berlebihan dari kebutuhan-kebutuhan pribadimu, namun jangan sampai membuat dirimu menjadi merugi sehingga menjadi orang miskin.”

***

Jelas bagi kita, bahwa Allah sama sekali tak melarang kita memperkaya diri atau mengumpulkan harta, saat menyimak pembahasan teks Al Qur’an mengenai perbuatan al-kanzu maupun tindakan al-‘afwu diatas. Islam melarang al- kanzu, sebab perbuatan itu menghalangi kemanfaatan suatu barang/jasa yang seharusnya dinikmati oleh banyak orang. Nilai utility sebuah produk menjadi minus, karena perbuatan al- kanzu yang diterapkan oleh perorangan atau lembaga usaha itu.

Sebaliknya, Islam menganjurkan al-‘afwu, agar kelebihan harta kita bisa diinvestasikan kedalam usaha-usaha tertentu, yang tentunya harus juga memperhitungkan nilai profit, benefit dan keberkahan. Nilai profit adalah berapa besar usaha tersebut menghasilkan keuntungan atau laba materiil bagi kita. Nilai benefit atau manfaat adalah seberapa mampu usaha kita menyejahterakan diri,serta menyejahterakan orang-orang disekitar kita.

Disamping nilai profit dan benefit, jangan dilupakan : nilai keberkahan. Jika dua nilai sebelumnya terkait erat dengan urusan hablum minannaas, maka dalam perkara nilai keberkahan, segi hablum minallaah-nyalah yang lebih dominan. Artinya, jika nilai profit dan benefit terkait langsung dengan tanggung-jawab horisontal terhadap sesama, maka segi keberkahan menyangkut tanggung-jawab langsung seorang pelaku usaha kepada Allah SWT. Tips agar selamat dalam pertanggungjawaban diri dihadapan-Nya adalah dengan : memilih usaha yang halal dan thayyib.

Dari larangan melakukan al-kanzu maupun anjuran melakukan al-‘afwu tersirat jelas, Islam menghendaki pemerataan dalam bangun perekonomian sebuah masyarakat. Tak boleh ada dalam masyarakat Islam, beberapa gelintir orang hidup bermewah-mewah, sementara mayoritas lainnya hidup dibawah garis kemiskinan. Hendaknya mereka yang berkecukupan ikut membantu pengentasan kemiskinan. Dengan sedekah harian, rutin mengeluarkan zakat fitrah, dan lebih penting lagi membuka jalan rejeki bagi orang lain. Niat itu bisa diwujudkan dengan menggagas pendirian sebuah badan usaha atau lembaga keahlian, perancangan sebuah proyek padat karya, sehingga mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Sayangnya Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, malah jauh dari cita-cita ideal pemerataan dalam bidang perekonomiannya. Banyak ketimpangan terjadi, semakin tampak kentara kesenjangan antara si kaya dengan si miskin. Di negeri ini belum banyak pengusaha besar yang aktif bertindak sebagai bapak angkat usahawan kecil. Yang paling sering kita temui adalah : penyabotan terhadap hak-hak rakyat kecil, demi kepentingan pengusaha besar dan segelintir orang-orang di birokrasi. Motif mereka jelas adalah al- kanzu, atau memperkaya diri dan kroni-kroni, sebuah perbuatan yang jelas diharamkan lewat ayat 34-35 Al Qur’an surat At-Taubah, yang telah dikutip dalam paragraf pembuka.

Fakta terkini dari perbuatan al- kanzu itu adalah kegiatan penimbunan dan penyelundupan bahan bakar minyak (BBM), dari perairan Indonesia ke luar negeri. Kasus tersebut kini ramai diberitakan oleh berbagai media cetak dan elektronik. Sebab ironisnya, terjadi ditengah kelangkaan beberapa jenis BBM di daerah-daerah tertentu, terjadi diantara kabar melonjaknya harga BBM di pasar minyak dunia. Berdasarkan bukti awal yang ditemukan pihak Pertamina, kalangan aparat, sindikat penyelundup mancanegara dan oknum pejabat Pertamina sendiri, termasuk sebagai pihak-pihak yang ditengarai telah bersekongkol dalam kriminal penyelundupan itu.

***

Realita penyimpangan tersebut menunjukkan kepada kita, bahwa satu diantara banyak penyakit kronis yang menjangkiti kalangan terhormat negeri ini adalah : al-kanzu. Lalu, mengapa orang berkelebihan dan berkecukupan sampai terjebak melakukan perbuatan yang diharamkan itu ? Tentu bukan masalah ekonomi, bukan masalah pemenuhan kebutuhan hidup, yang menjadi sebab utamanya.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan kepada kita, jangan sampai hati ini terjangkiti hubbud dunya, yaitu : cintaan berlebihan terhadap harta dunia. Memang normal saja manusia mencintai harta dunia, sebab Allah SWT sendiri telah berfirman :”Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan (kendaraan mewah), binatang-binatang ternak, dan sawah ladang, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik“(Q.S. Ali ‘Imran : 14). Namun, jika cinta dunia melebihi cinta seorang hamba terhadap Rabb-nya, maka segala yang dicintai dan disukainya itu malah akan menjadi fitnah bagi diri.

Rasulullah SAW menggolongkan hubbud dunya sebagai fitnah terbesar bagi umatnya, sebagaimana sabda beliau : “Setiap umat memiliki fitnah dan ujian, dan fitnah terbesar bagi umatku adalah harta dunia.”(H.R. Muslim) Selain siksa pedih terhadap mereka yang terlampau mencintai dunia, sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an surat At-Taubah ayat 34-35, Rasulullah SAW pernah juga mengingatkan umatnya akan siksa pedih dan murka Allah, bagi siapa-siapa yang terjangkiti penyakit hubbud dunya. “Sesungguhnya harta dunia ini adalah ibarat tanaman yang hijau (yang sangat menarik) dan terasa manis. Harta dunia akan menjadi sebaik-baiknya sahabat bagi kehidupan seorang Muslim, jika mendapatkannya dengan cara yang benar dan memanfaatkannya dengan cara yang benar pula, seperti untuk menegakkan agama Allah, menolong dan membantu anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal dalam perjalanannya). Dan barangsiapa yang mendapatkannya dengan cara yang tidak benar, maka ibarat orang yang makan tetapi tidak pernah merasa kenyang, dan kelak akan menjadi saksi pada hari kiamat (yang memberatkan).”demikian peringatan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari.

Agar diri tak terjangkiti hubbud dunya, terbebas dari kotoran hati dan kelak kembali pada nafsul muthmainnah, hendaknya kita mampu memilah antara urusan ‘kebutuhan’ dengan perkara ‘keinginan’. Kita canangkan ikhtiar kita untuk memenuhi apa-apa yang memang diperlukan, daripada untuk memenuhi syahwat keinginan. Islam menganjurkan kita untuk menggenggam harta sesuai kadar kebutuhan pribadi dan keluarga, serta memerintahkan infak dari sisa berlebih pemenuhan kebutuhan kita sehari-hari. Perlu diinsyafi bahwa jumlah infak itu, tak hanya sebatas ukuran sedekah recehan saja. Alangkah mulianya jika milik kita yang berlebih itu bisa bermanfaat untuk kepentingan umat, sebagai investasi pendidikan, usaha perdagangan atau apa saja yang berguna. Dengan begitu, hati kita akan terbebas dari hubbud dunya, dari perbuatan tercela seperti al- kanzu, sebagaimana dilakukan oknum aparat, pengusaha serta pejabat penimbun dan penyelundup BBM, yang kini tinggal menghitung waktu datangnya azab dari Allah ‘azza wa jalla. Wallahu a’lam bish shawab.

sumber

Coba Dievaluasi, Apakah Kita Masuk ke dalam kategori “Hubbud Dunya” ?

Berikut Klasifikasinya, kemudian coba kita evaluasi diri kita masing – masing. Kitakah salah satunya?

cinta dunia1. Anda tidak bersiap siap saat waktu shalat akan tiba.
2. Anda melalui hari ini tanpa sedikitpun membuka lembaran Al Qur’an lantaran Anda terlalu sibuk.
3. Anda sangat perhatian dengan omongan orang lain tentang diri Anda.
4. Anda selalu berpikir setiap waktu bagaimana caranya agar harta Anda semakin bertambah.
5. Anda marah ketika ada orang yang memberikan nasihat bahwa perbuatan yang Anda lakukan adalah haram.

6. Anda terus menerus menunda untuk berbuat baik. “Aku akan mengerjakannya besok, nanti, dan seterusnya.”
7. Anda selalu mengikuti perkembangan gadget terbaru dan selalu berusaha memilikinya.
8. Anda sangat tertarik dengan kehidupan para selebriti.
9. Anda sangat kagum dengan gaya hidup orang-orang kaya.
10. Anda ingin selalu menjadi pusat perhatian orang.
11. Anda selalu bersaing dengan orang lain untuk meraih cita-cita duniawi.
12. Anda selalu merasa haus akan kekuasaan dan kedigdayaan dalam hidup, dan perasaan itu tidak dapat dibendung.
13. Anda merasa tertekan manakala Anda gagal meraih sesuatu.
14. Anda tidak merasa bersalah saat melakukan dosa-dosa kecil
15. Anda tidak mampu untuk segera berhenti berbuat yang haram, dan selalu menunda bertaubat kepada Allah.
16. Anda tidak kuasa berbuat sesuatu yang diridhai Allah hanya karena perbuatan itu bisa mengecewakan orang lain
17. Anda sangat perhatian terhadap harta benda yang sangat ingin Anda miliki.
18. Anda merencanakan kehidupan hingga jauh ke depan.
19. Anda menjadikan aktivitas belajar agama sebagai aktivitas pengisi waktu luang saja, setelah sibuk berkarir.
21. Anda memiliki teman-teman yang kebanyakannya tidak bisa mengingatkan Anda kepada Allah.
21. Anda menilai orang lain berdasarkan status sosialnya di dunia.
22. Anda melalui hari ini tanpa sedikitpun terbersit memikirkan kematian.
23. Anda meluangkan banyak waktu sia-sia melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat.
24. Anda merasa sangat malas dan berat untuk mengerjakan suatu ibadah.
25. Anda tidak kuasa mengubah gaya hidup Anda yang suka berfoya-foya, walaupun Anda tahu bahwa Allah tidak menyukai gaya hidup seperti itu.
26. Anda senang berkunjung ke negeri-negeri kafir.
27. Anda diberi nasihat tentang bahaya memakan harta riba, akan tetapi Anda beralasan bahwa beginilah satu satunya cara agar tetap bertahan di tengah kesulitan ekonomi.
28. Anda ingin menikmati hidup ini sepuasnya.
29. Anda sangat perhatian dengan penampilan fisik Anda.
30. Anda meyakini bahwa hari kiamat masih lama datangnya.
31. Anda melihat orang lain meraih sesuatu dan Anda selalu berpikir agar dapat meraihnya juga.
32. Anda ikut menguburkan orang lain yang meninggal, tapi Anda sama sekali tidak memetik pelajaran dari kematiannya.
33. Anda ingin semua yang Anda harapkan di dunia ini terkabul.
34. Anda mengerjakan shalat dengan tergesa-gesa agar bisa segera melanjutkan pekerjaan.
35. Anda tidak pernah berpikir bahwa hari ini bisa jadi adalah hari terakhir Anda hidup di dunia.
36. Anda merasa mendapatkan ketenangan hidup dari berbagai kemewahan yang Anda miliki, bukan merasa tenang dengan mengingat Allah.
37. Anda berdoa agar bisa masuk surga namun tidak sepenuh hati seperti halnya saat Anda meminta kenikmatan dunia..

Nah, berapa persen hubbud dunya (cinta dunia) memenuhi ruang hati kita?

Smg bermanfaat..

10 Tanda Orang Sok Pintar yang Sebenarnya Gak Tahu Apa-apa

Pernahkah kamu bertemu dengan orang yang seakan-akan bisa menjawab semua pertanyaan?

Meskipun seolah-olah bisa menjawab semua pertanyaan, jawabannya terasa kosong alias tidak ada artinya atau terdengar ngasal. Yup, orang-orang itu sering disindir dengan “Mr/Mrs Know It All” alias sok pintar.

Mungkin mereka sebenarnya tidak paham apa-apa, namun ingin dianggap pintar di hadapan orang lain. Nah penasaran apa tanda-tandanya? Berikut 10 tanda orang bodoh yang sok pintar!

1. Tanda orang sok pintar adalah suka sibuk sendiri untuk hal-hal yang gak penting.

bs1-121fc9b9802679344536ff77045c4f49.jpg

Orang yang sok pintar cenderung terlihat sok sibuk. Ia sebenarnya tidak punya kegiatan apa pun. Namun karena ingin terlihat bahwa kepintarannya diperlukan di banyak tempat, dia sering membuat dirinya terlihat sibuk. Mondar-mandir meskipun kegiatannya sebenarnya kosong.

2. Sudah pasti, orang yang sok pintar gemar meremehkan orang lain.

tumblr-n06ee1dejs1s5exrfo1-500-c59268b6cb4e0b5fe9875e7b7de745c2.gif

Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Orang yang sok pintar, sulit untuk melihat kelebihan orang lain. Ia menganggap dirinya jauh lebih pintar daripada orang lain. Akhirnya cenderung gemar meremehkan orang lain.

3. Orang yang sok pintar gampang marah ketika dikritik.

tumblr-miz9fffgsz1s43vfgo1-500-d1b60f454cfcd2beb99bf7cc7684d844.gif

Orang yang sok pintar itu cenderung suka merasa benar sendiri. Ia tidak bisa menerima perbedaan yang ada. Ketika dikritik, orang yang sok pintar akan marah. Mereka merasa marah ketika dikritik oleh orang yang mereka anggap lebih “bodoh”.

4. Alih-alih punya pendapat sendiri, orang sok pintar suka mencatut kata-kata orang.

bs4-6a4d7568e9e62b9fbc915b3fd9b9ab97.jpg

Orang sok pintar sebenarnya tidak punya pemikiran tersendiri. Dia lebih gemar mencatut kata-kata orang yang sudah terkenal agar ikut terlihat hebat. Kalau ada teman kamu yang terlihat pintar, coba tanyakan pendapatnya tentang sebuah peristiwa. Kalau ia hanya mengekor pendapat orang, kemungkinan besar teman kamu sedang melancarkan aksi “sok pintar”.

5. Selalu ingin dipuji adalah tanda orang sok pintar.

bs5-2bc5f70d1f0a144ed800fe314127f5cc.jpg

Puji-pujian itu sebenarnya hanya pantas untuk Tuhan semata. Soalnya semua kelebihan di dunia hanya milik Tuhan. Orang yang sok pintar menganggap bahwa kelebihan-kelebihan itu adalah miliknya sehingga selalu ingin dipuji.

6. Orang yang sebenarnya gak pintar itu justru suka ngomong terus meski tidak ditanya.

bs6-1a087862b31d4221500e1c87bdb17f63.jpg

Orang yang sok pintar, ingin selalu dipuji. Karena itu ia selalu berbicara untuk menunjukan kepintarannya. Tanpa kamu tanya pun, ia akan terus nyerocos tanpa henti meskipun omongannya tidak berisi.

7. Tidak mau kalah dan enggan membuka pikiran adalah ciri orang yang sok pintar.

giphy-3-318a0c8fd32c85e9d757df6595da48ef.gif

Orang yang sok pintar itu, tidak mau kalah. Pokoknya ngotot terus untuk menunjukan dia yang paling benar. Padahal sebenarnya dia hanya takut dikalahkan oleh pendapat orang.

8. Orang yang sok pintar sering tidak mau mengakui ketidaktahuannya.

best-a9eeee611e46bd3d03524092cc962ceb.gif

Namanya juga orang sok tahu. Pasti selalu ingin terlihat mengetahui segala hal. Dia bakal malu kalau sampai tidak mengetahui sesuatu. Mungkin ingin dianggap seperti Google berjalan kali ya.

9. Kalau diamati lebih dalam, orang sok pintar pekerjaanya hanya membual.

bs9-2ea67201e9d24e7416d61a80979caf68.jpg

Orang yang benar-benar pintar, kalau berbicara didasarkan pada fakta atau pengalaman nyata. Sementara kalau orang yang sok pintar, kalau berbicara ngasal. Kemana-mana kerjaannya membual.

10. Orang sok pintar itu tidak suka mendengarkan orang lain.

bs10-74ea267cf8806ce63edcbbea043e606f.jpg

Sudah jadi rumus, orang yang tahu banyak hal cenderung merasa makin banyak yang dia tidak tahu. Karena merasa tidak tahu, ia terus ingin belajar dan mencari hal-hal baru. Orang yang tahu banyak cenderung suka mendengarkan orang lain untuk mendapatkan hal-hal baru tersebut.

Sementara itu, orang sok tahu malah merasa sudah cukup ilmu. Karena itu orang yang sok tahu tidak suka mendengarkan orang lain.

Nah, pastikan kamu bukan salah satunya ya!

Merasa Diri Sudah Baik

tumblr_n3zyh48kxo1r4mcxwo1_1280Ini yang dialami oleh kita-kita tatkala sudah lama belajar agama. Merasa diri sudah lebih dari orang lain dan lebih paham dari yang lain. Padahal kekurangan kita teramat banyak. Maksiat kecil-kecilan bahkan yang besar masih dilakoni. Ilmu yang telah kita pelajari pun sedikit yang diamalkan. Prinsip yang harus dipegang adalah jangan selalu merasa diri sudah baik, namun berusaha terus untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Allah Ta’ala berfirman,

هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An Najm: 32).

Janganlah engkau mengatakan dirimu suci, dirimu lebih baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ

Janganlah menyatakan diri kalian suci. Sesungguhnya Allah yang lebih tahu manakah yang baik di antara kalian.” (HR. Muslim no. 2142).

Jika kita ingin memiliki tahu bahayanya menganggap diri lebih baik, maka coba lihatlah pada kekurangan kita dalam ketaatan. Lalu lihat para orang yang menyatakan kita baik. Maka kalau seandainya mereka tahu kekurangan kita, pasti mereka akan menjauh.

Seharusnya sikap seorang muslim adalah mengedepankan suuzhon (prasangka jelek) pada diri sendiri. Ia merasa dirinya serba kurang. Tak perlulah ia memandang kejelekan pada orang lain. Kita ingat kata pepatah, “Semut di seberang lautan nampak, namun gajah di pelupuk mata tak nampak.”

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاة فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذَل- أو الجَذَع – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ

Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 592, shahih secara mauquf).

Hati-hati pula dengan sifat ujub, yaitu takjub pada diri sendiri. Dalam hadits yang ma’ruf disebutkan,

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan), dan ujub (takjub pada diri sendiri).” (HR. Abdur Rozaq 11: 304. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3039).

Harusnya kita melihat contoh Abu Bakr, ia malah berdoa ketika dipuji oleh orang lain.

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun. [Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] ( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25: 145, Asy Syamilah)

Sikap Abu Bakr di atas menunjukkan bahwa ia merasa dirinya tidak lebih baik dari pujian tersebut. Marilah kita memiliki sifat yang baik seperti ini.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Mengenal Penyakit Hati

Bissmillahirrohmanirrohim

https://tausyah.wordpress.com/” ….ketahuilah.. sesunguhnya didalam jasad itu terdapat segumpal daging, yang apabila segumpal daging itu baik dia maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila segumpal darah   itu rusak maka rusaklah seluruh jasadnya, ketauhilah bahwa segumpal daging itu adalah hati “.

(hadist riwayat Bukhari dan Muslim dari Abi Abdillah An-nu’man bin Basyir)

Inilah suatu perkara yang bunyinya tiada bergeming dengan lidah melainkan atas apa-apa yang ada didalam hati manusia, penyakit hati merambat dari lingkungan sekitar hingga merasuk kedalam hati, akan bagaiamana sebuah hati menerjemahkan arti hidup ini. Jika hati itu baik, maka baiklah seluruh gerangan diri si pemilik hati itu, sedang jika ia buruk maka buruklah segala gerangan dirinya. Niscaya sekalian perkara yang buruk yang ada dalam hatinya itu akan melahirkan virus-virus maksiat yang menyebabkan hati itu lusuh dan menimbulkan penyakit sedang ia akan senantiasa bersuka ria dengan dosa oleh karena penyakit didalam hatinya.

Adapun perkara ini bermula  disebabkan lemahnya keimanan dan ketaqwaannya pada ajaran ALLAH, sedang ia senantiasa terpedaya dengan kesenangan duniawi yang sifatnya hanya sementara. Tenggelamlah ia kedasar laut yang dalam, merapuhkan kemuliaan, kesucian, beserta sekalian perkara kebaikan yang pernah bersemayam didalam hatinya, sehingga merugilah ia dengan sebenar-benar kerugian sedang ia tiada sadar.

Firman ALLAH Ta’ala :

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Al-Baqarah : 10

Sesungguhnya penyakit hati itu adalah sifat – sifat yang buruk yang ada didalam hatinya, dan sekalian keburukan itu adalah kendali dirinya sehingga ia terombang ambing di derunya gelombang pasang samudera kehidupan dunia yang fana ini.

Dan berikut adalah penyakit hati manusia :

1. Iri

وَلاَ تَتَمَنَّوْاْ مَا فَضَّلَ اللّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُواْ وَلِلنِّسَاء نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُواْ اللّهَ مِن فَضْلِهِ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً ﴿٣٢

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi parawanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. An-Nisaa:32

2. Dengki

وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿١٠٩

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Al-Baqarah:109.

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُواْ فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلاَّ الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَا جَاءتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْياً بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ لِمَا اخْتَلَفُواْ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿٢١٣

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberikabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yangnyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.  Al-Baqarah: 213

3. Penghasut

adalah ia merupakan sifat yang hendak memecah belah persaudaraan lagi agar timbul bagi kedua belah pihak permusuhan dan kebencian dengan mempengaruhi sekalian keadaan di antara diri yang satu dengan yang lain.

4. Fitnah

  وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ

Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Al-Baqarah : 217

5. Khianat

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. Ghafir : 019.

6. Mengeluh

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعاً

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Al – Ma’aarij : 19

7. Pendusta

فَمَنِ افْتَرَىَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ مِن بَعْدِ ذَلِكَ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Maka barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, maka merekalah orang-orang yang zalim. Ali – Imraan : 094.

8. Cinta Dunia

seorang manusia yang mencintai dunia, niscaya ia akan  melupakan akhirat sedang hatinya berharap-harap jauh dari kematian lagi takut tibanya masa dimana malaikat merenggut nyawanya.

Firman ALLAH Ta’ala :

أُولَـئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُاْ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالآَخِرَةِ فَلاَ يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلاَ هُمْ يُنصَرُونَ

Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. Al-Baqarah : 86.

9. Ego

Inilah penyakit hati yang kerap menggerogoti hati manusia yang lebih mementingkan dirinya sendiri dari sekalian perkara manusia yang lain dalam urusan duniawinya.

Dari Abu Hurairah r.a. katanya: “Bersabda Rasulullah SAW: “ Tiga macam orang bukan saja tidak akan mendapat layanan dan ampunan pada hari kiamat kelak, bahkan akan mendapat siksa yang pedih, yaitu seorang yang mempunyai kelebihan air di tengah padang pasir, sedangkan ia tidak mau memberikannya kepada orang yang kehausan, seorang yang menjajakan barang dagangannya sesudah lewat waktu Asar sambil bersumpah dusta bahawa pokoknya sekian-sekian dan dipercayai oleh si pembeli dan seorang lagi yang membai’at pemimpin hanya untuk maksud manfaat keduniaan; apabila kelak maksudnya tercapai, ia patuh dan jika tidak, ia mungkir (berpaling tadah).”

(Muslim)

10. Cuek

Tiadalah ia beroleh arti atas tiap-tiap sesuatu yang ia lihat, dengar atau rasakan dan tidak pulalah ia beroleh hikmah lagiibrah atas sekalian masa yang ia lalui.

11. Lalai

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. Al-A’raaf : 205

12. Was-was (tergesa-gesa)

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَواْ إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Al-A’raaf : 201.

13. Khilaf

 وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja olehhatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al – Ahzaab : 005.

14. Jahil (Tidak berilmu)

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”. Al-Qashas : 055.

15. Berburuk Sangka

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Al – Hujuraat : 12.

16. Bakhil (Pelit)

وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Al-Lail : 008.

17. Berputus Asa

قَالَ وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِ إِلاَّ الضَّآلُّونَ

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat“. Al-Hijr : 056.

18. Pemarah

وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِباً فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. Al-Anbiyaa’ : 087.

19. Dendam

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَاناً عَلَى سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ

Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.  Al – Hijr : 47.

20. Dan Lain Sebagainya

Dan Inilah perkara penyakit yang terlebih tinggi derajat keburukannya bagi manusia yaitu sifat SOMBONG, Sombong adalah sifat makhluk ALLAH yang pertama kali ALLAH jadikan yaitu Iblis yang menyebabkan ia dikeluarkan dari syurga serta dilaknati ALLAH karena kesombongannya hingga hari kiamat. Dan inilah perkara sifat maupun penyakit hati yang kemudharatannya jauh melebihi kemaslahatannya untuk merajut sifat sombong tersebut, seumpama sebatang pohon, yang mana sombong adalah pohonnya sedang akar-akarnya adalah sebagai berikut :

20.1. ‘Ujub (Membanggakan Diri)

Ujub adalah suatu perkara sifat yang membinasakan karena merasa diri memiliki kelebihan yang menjadikan ia bangga terhadap dirinya sendiri.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :

ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَهُوَيَ مُتَبَعٌ وَإِعْجَابٌ اْلمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Tiga perkara yang membinasakan: sifat sukh (rakus dan bakhil) yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ‘ujub seseorang terhadap dirinya.” [Silsilah Shahihah, no. 1802]

20.2. Merendahkan Orang Lain.

adalah ia merupakan sifat yang teramat buruk karena tiadalah baginya menghargai apa-apa yang didapati maupun dimiliki orang lain, sekalian manusia disekitarnya adalah rendah karena ketinggian hatinya.

3. Taraffu (Suka Menonjolkan Diri)

inilah suatu penyakit hati yang senantiasa baginya berupaya agar dikenal banyak orang dengan segala daya dan upayanya yang buta, sedang hatinya busuk dan tiada pula baginya kebaikan atas segala apa-apa yang ia kerjakan.

20.4. Terlena Dengan Hawa Nafsu

Tiadalah ia pernah merasa puas dalam mengejar dunianya, dan ia senantiasa berharap lagi berupaya agar beroleh lebih dan lebih atas sekalian barang kehendaknya di muka bumi.

ALLAH Tabaraka wa Ta’ala Berfirman :

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ

dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Shaad : 26

20.5. Riya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْداً لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.  Al-Baqarah : 264.

20.6. Dan lain sebagainya

Cara Mengobati Penyakit Hati

Jika ada penyakit maka tentulah ada obatnya, sedang obat penyembuh dari sekalian penyakit ini tiadalah kamu hendak bersusah payah karenanya. Melainkan telah disampaikan oleh akhi OPICK dalam syairnya :

Obat hati ada lima perkaranya
Yang pertama baca Quran dan maknanya
Yang kedua sholat malam dirikanlah
Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh
Yang keempat perbanyaklah berpuasa
Yang kelima dzikir malam perpanjanglah

Maka wahai hamba-hamba yang dirahmati ALLAH, maukah engkau menjadi salah seorang Ahli Syurga ALLAH..? Niscaya hendaklah kamu mensyucikan hatimu dari sekalian penyakit itu dan obatilah dengan semakin mendekatkan diri kepada ALLAH Subhana wa Ta’ala dan peliharah sifat – sifat yang mulia lagi terpuji yaitu sifat – sifat laki-laki yang shaleh lagi shalehah, niscaya yang sedemikian itu telah menghampirkan dirimu ke syurga. Insha ALLAH Ta’ala

Artikel ini merupakan kajian penulis (admin blog), untuk itu mohon maaf atas segala kesalahan maupun kekurangan yang terdapat didalamnya.

Jika terdapat perkataan yang tiada berkenan bagimu dalam artikel ini, niscaya kepada ALLAH aku memohon ampun sedang kepada kamu sekalian aku memohon maaf.

Jazzakumullahu khairan katsiron…

sumber

Janganlah Menjadi Gelas

gelasSeorang guru menghampiri muridnya ketika jam pelajaran selesai. Ada salah seorang murid yang belakangan ini wajah nya selalu murung.

“Kenapa kau selalu murung nak,,? bukankah banyak hal yang indah didunia ini..? Kemana perginya wajah bersyukur mu..” sang guru bertanya.

“Pak dan.. belakangan ini hidupku penuh dengan masalah.. sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habisnya… ” Jawabnya.

Sang guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan 2 genggam garam. Bawalah kemari biar ku perbaiki suasana hatimu..” Simurid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan 2 genggam garam di tangannya.

“Coba ambil segenggam garam dan masukan ke segelas air itu..” Kata sang guru.

“Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.” Simurid pun melakukannya. Wajahnya pun kini meringis karena meminum air asin.

“Bagai mana rasanya.?” Tanya sang guru. “Asin, dan perutku jadi mual,” Jawab simurid dengan wajah yang masih meringis. Sang guru terkekeh – kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. “Sekarang kau ikut aku..” Sang guru membawa muridnya ke danau didekat tempat mereka.

“Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.” Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin dimulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah dihadapan guru, begitu pikirnya.

“Sekarang kamu coba minum air danau itu..” Kata sang guru sambil menyari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat dipinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau dan membawanya kemulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir ditenggorokannya, sang guru bertanya kepadanya. “Bagai mana rasanya..?”

“Segar, segar sekali..” Kata si murid sambil mengelap mulutnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air diatas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil dibawah. Dan sudah pasti air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa dimulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi..?” “tidak sama sekali” Kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,,” Kata sang guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang kamu alami sepanjang kehidupanmu itu, sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu.

Jumlah tetap, segitu – segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir kedunia pun demikian. Tidak ada satupun manusia, walaupun dia seorang nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan. “Tapi nak, ‘rasa asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah menjadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”

Kesimpulannya.. janganlah berpikiran sempit, karena kita punya 2 mata juga otak untuk berpandangan luas. Pandanglah kedepan seluas – luasnya. Maka, masalah yang anda hadapi akan terasa lebih mudah. (walaupun butuh pengorbanan).
Sekali lagi,, janganlah menjadi Gelas

sumber

JANGAN TERLALU CEPAT MENILAI SESEORANG

SETIAP ORANG BELUM TENTU BAIK, TETAPI SELALU ADA KEBAIKAN PADA SETIAP ORANG
JANGAN TERLALU CEPAT MENILAI SESEORANG, KARENA SETIAP ORANG SUCI PASTI PUNYA MASA LALU DAN SETIAP PENDOSA MASIH MEMPUNYAI MASA DEPAN

PUBLISHED by Catsmob.com

PUBLISHED by Catsmob.com

Sahabatku yang ALLAH cintai,
Bagi kita yang ingn dekat dengan ALLAH, jangan kita merasa paling benar dan perbanyaklah meminta kepada ALLAH untuk di istiqomahkan dan di jaga ALLAH ini.
Dan bagi sahabatku yang masih belum mengenal ALLAH, rasulullah dan agama, mari kita kejar HIDAYAH ALLAH.
ALLAH masih memberikan kesempatan kita untuk bisa mengenalnya, lebih dekat kepadanya jangan pernah sia-siakan kesempatan yang ALLAH berikan.
MARI KITA KEJAR HIDAYAH ALLAH dengan BERTAUBAT kepadanya

ALLAH berfirman :

25.Surah Al-Furqān (Verse 70)

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

25.Surah Al-Furqān (Verse 71)

وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.

MASYA ALLAH betapa RAHMAN dan ROHIMNYA ALLAH. mari kita kejar HIDAYAH ALLAH dan TERUS BERTAUBAT kepada-NYA

TOLONG ingatkan saya jika terlupa, ingatkan
saya bila melakukan kehilafan.karena saya manusia biasa yang sering melakukan kehilafan.tegurlah dengan cara yang baik dan jangan menghina

Cara Bersyukur dengan Lisan, Hati dan Perbuatan

Apa itu syukur? Pertanyaan tentang pengertian syukur dan macamnya sudah dipaparkan pada bahasan pengertian syukur. Melanjutkan bahasan tersebut, timbul pertanyaan bagaimana cara bersyukur kepada Allah atas berbagai nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita hambanya? Berikut ini adalah cara-cara bersyukur kepada Allah. Apa yang paling penting dan diamalkan dari cara-cara beryukur tersebut.

Namun sebelumnya sebagai pembuka bahasan cara-cara bersyukur mari kita perhatikan dalil firman Allah dalam Al-Qur’an al-Karim dan juga dalil Hadits Nabi yang menerangkan keharusan dari bersyukur. Firman Allah dalam Al-Qur’an :

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ

Artinya : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 7)

Dari ayat di atas, menekankan dan memberikan kepada kita pengertian bahwa bersyukur itu adalah suatu keharusan bagi hamba kepada Tuhannya. Tersirat dalam ayat di atas dua hal yang berupa anjuran untuk bersyukur dan ancaman bagi orang-orang yang tidak bersyukur. Bahwasanya, bagi orang-orang yang bersyukur, niscaya Allah akan menambahkan nikmat-nikmat yang diperoleh dan ancaman bahwa azab atau siksa Allah itu amat pedih.

Dalam sebuah hadits dikisahkan :

Pada suatu malam ‘istri Nabi Aisyah ra. Melihat Rasulullah saw sedang mengerjakan sholat tahajud sampai membuat kaki Rasulullah bengkak yang disebabkan karena Nabi berdiri terlalu lama. ‘Aisyah melihat hal tersebut dan berkata kepada Nabi : Wahai Rasul, mengapa engkau selalu melakukan ini di malam hari, sedangkan hal ini bukanlah suatu kewajiban? Dan juga, bukankah semua dosa-dosamu baik yang akan dating ataupun dosa yang telah lalu akan diampuni oleh Allah? Rasulullah Nabi Muhammad saw pun tersenyum dan beliau berkata : apakah salah apabila aku ingin menjadi Hamba Allah yang bersyukur?

Dari keterangan cerita hadits di atas, memberikan kita penjelasan betapa indah yang diajarkan Nabi Muhammad saw., bahwasanya tidak ada satu kesombongan pun dalam diri Rasulullah saw. Tidak terdapat rasa bermalasan-malasan yang ada pada diri Rasul untuk selalu mendapatkan cinta sang maha kuasa, meskipun beliau sudah mendapatkan gelar sebagai kekasih Allah swt.

Bagaimanakah cara-cara bersyukur kepada Allah?

Cara bersyukur kepada Allah dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, yaitu sebagai berikut :

Cara bersyukur yang pertama adalah dengan lisan

Bersyukur dengan lisan adalah bersyukur dengan perkataan atau lisan. Orang yang selalu bersyukur akan senantiasa memuji kepada Tuhannya, dengan mengucapkan bacaan tahmid ketika mendapatkan nikmat, beristighfar apabila melakukan kesalahan, dan lain sebagainya.

Lidah orang-orang yang bersyukur akan selalu dibasahi dengan dzikrullah, takbir, tahmid, tahlil yang selalu mengiringi dalam setiap hembusan nafas seseorang. Memberikan tausiah serta saling mengingatkan ketika ada yang melakukan kesalahan dan kekhilafan adalah juga merupakan bagian dari cara bersyukur dengan lisan.

Cara bersyukur yang kedua adalah dengan hati.

Bersyukur dengan hati adalah dengan senantiasa menjaga qalbu atau hati dari berbagai penyakit yang dapat merusak dan mengotori hati seperti sifat iri hati, dengki yang terlarang, riya dan munafik.

Hati yang senantiasa bersyukur akan senantiasa berprasangka baik kepada Allah dengan menerima apa yang menjadi ketentuan dan takdir Allah kepadanya dalam kehidupan yang dijalani, tidak berputus asa ketika datang ujian dan cobaan melanda. Dengan ujian dan cobaan tersebut, orang yang bersyukur dengan hati akan menjadikan dirinya sebagai pribadi yang tegas, tegar dalam menjalani kehidupan yang fatamorgana ini.

Cara bersyukur yang ketiga adalah dengan amal perbuatan

Bersyukur dengan amal perbuatan adalah melalui tindakan atau amal perbuatan. Perbuatan seseorang dapat menjadi refleksi atau cerminan dari rasa syukur atas nikmat-nikmat yang diberikan oleh Allah. Salah satu contoh bentuk cerminan syukur adalah dengan memberikan dan perbuat banyak kebaikan kepada orang lain. Bersyukur hendaknya selalu diaplikasikan dalam keseharian, misalnya perilaku serta akhlak yang baik dan mulia juga dapat menjadi gambaran dan bentuk dari wujud syukur dalam perbuatan, ramah, sopan santun dalam pergaulan juga merupakan bagian dari rasa syukur itu sendiri.

Bentuk dari cara bersyukur dengan amal perbuatan ini adalah cara bersyukur yang paling penting dalam kehidupan di masa sekarang ini. Sudah semestinya kita ini menjadi rakyat yang bersyukur, bangsa yang bersyukur. Demikian juga bagi para pemimpin, para pemimpin yang menunjukkan wujud syukur dalam perbuatan adalah mereka yang senantiasa menunjukkan dan bisa menjadi contoh suri tauladan bagi rakyat yang dipimpinnya, bukan menjadi pemimpin yang mengajarkan berlaku dan bertindak kufur atas nikmat Allah.

Itulah cara-cara bersyukur kepada Allah swt. Tuhan yang mencipta alam dan seisinya, Maha menguasai alam dan seisinya, maha pengampun atas semua dosa. Marilah kita senantiasa berdoa, agar dapat menjadi orang yang pandai bersyukur, baik bersyukur dengan lisan, bersyukur dengan hati dan lebih-lebih bersyukur dengan amal perbuatan. Amiin……..

7 Langkah Sederhana Agar Tidak Mengulang Kesalahan yang Sama

Salah itu biasa. Orang yang takut menghadapi kesalahan justru berisiko menjadi diri yang tidak berkembang dan jalan di tempat. Tapi akan menjadi tidak biasa jika kita kembali, kembali, dan kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Kesalahan-kesalahan yang kita lakukan itu berguna sebagai feedback bahwa cara yang kita lakukan belum tepat dan perlu diperbaiki. Tetapi tidak jarang juga kita melihat bahwa justru terulang kembali kesalahan-kesalahan lama yang dibuat. Nah, kali ini saya ingin berbagi tips mengenai 7 langkah yang bisa diterapkan agar kita tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama.


‘Tafakkur 1 jam, lebih baik dari ibadah 1 tahun”. Sepintas, ungkapan Imam Syafi’I itu berlebihan. Bagaimana mungkin sebuah amal yang dilakukan dalam rentang 1 jam, bisa lebih baik dari ibadah selama 1 tahun?

Ungkapan Imam Syafi’I itu tentu tidak disampaikan dalam konteks perbandingan yang saling menafikan antara satu dengan yang lain. Imam Syafi’i tidak mengajak agar orang melakukan tafakkur 1 jam, lalu tak perlu beribadah selama satu tahun. Sama sekali tidak. Ia hanya ingin menekankan pentingnya merenung, menghisab diri, mengevaluasi amal yang telah lalu, menekuri hidup dan seterusnya. Sikap ini sangat penting dan bahkan menjadi syarat seseorag untuk mampu memiliki kualitas ibadah yang lebih baik.

Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan agar kita terbiasa mengambil pelajaran dari masa lalu, baik dari apa yang telah dilakukan diri sendiri, maupun orang lain.
1.Merenung, bermuhasabah atau mengevaluasi amal dalam satu har
2.Memiliki agenda harian untuk mengevaluasi amal-amal yang telah dilakukan.
3.Biasakan menilai dan mempertajam kontrol terhadap diri sendiri.
4.Sadarilah bahwa belajar dari pengalaman akan menambah kedewasaan da kebijakan dalam menyikapi hidup.
5.Ketahuilah, bahwa dalam batas tertetu kesalahan dan kekelirua adalah lumrah.
6.Selami sejarah orang-orang yang hidup di masa lalu.
7.Seringlah berdiskusi, bertukar pengalaman, saling menasehati dengan orang-orang sholih tentang berbagai fenomena hidup.

Pertama; Merenung, bermuhasabah atau mengevaluasi amal dalam satu hari
Kebiasaan seperti inilah yang dilakukan seorang sahabat yang menurut Rasulullah sebagai ahli surga. Dalam hadits shahih disebutkan dalam 3 kesempatan Rasulullah menyinggung kedatangan sahabat calon penghui syurga itu di dalam majelis para sahabat. Ahli syurga itu ternyata bukan ahli ibadah yang kuantitas ibadahnya melebihi para sahabat lain. Ia hanya kerap melakukan evaluasi diri mejelang tidurnya setiap malam lalu ia hapus semua rasa gundahnya pada sesama muslim.

Dalam kitab ‘Bukaul Mabrur’ yang mengulas tentang tangisan orang2 sholih disebutkan perkataan salafusholih: “Para orang tua kami selalu menghitug diri dari apa yang mereka perbuat dan apa yang mereka ucapkan, kemudian mereka menulisnya dalam sebuah daftar. Setelah sholat ‘Isya, mereka meneluarkan daftar amal dan ucapannya kemudian menimbangnya. Jika amalan yang diperbuat buruk yang perlu istighfar maka mereka bertaubat da beristighfar. Namun jika amalan baik dan perlu disyukuri, merekapun bersyukur kepada Allah hingga mereka tidur. Kami pun mengiikuti jejak mereka. Kami mencatat apa yang kami perbuat dan menimbangnya”.

Kedua; Memiliki agenda harian untuk mengevaluasi amal-amal yang telah dilakukan.
Agenda harian ini berisi daftar amal harian yg dianggap wajib dilakukan. Misalnya; Memulai pekerjaan dengan Bismillah, Membaca Istighfar minimal 100kali, Membaca Al-Qur’an sekian halaman, dsb. Sebaliknya catat pula alasan, problem dana hambatan yang menjadikan kita tidak mampu menunaikan amal-amal harian tersebut. Mencatat hambatan amal-amal baik akan menjadi bahan pengalaman agar bisa diantisipasi pada waktu selanjutnya.

Sebagaimana setiap orang akan menerima lembaran2 amalnya selama di dunia pada pengadilan akhirat nanti, setiap muslim sangat diajurkan untuk menghitung-hitung sendiri amal-amalnya sejak di dunia. Tujuannya jelas, agar segala keburukan tidak terulang, dan segala kebaikan terpelihara bahkan lebih baik lagi. Umar r.a memberi nasehat, “Hasibuu anfusakum, qobla an tuhasabuu”. Hisablah amal-amal kalian sendiri, sebelum amal-amal kalian di hisab (oleh Allah di hari kiamat).”

Imam Hasan Al Bashri mengatakan, “Sesungguhnya penghisaban di hari kiamat akan ringan bagi kaum  yang telah menghisab amalannya di dunia, begitu pula sebaliknya penghisaban di hari kiamat akan berat bagi orang yang tidak menghisab amalannya di dunia”.

Ketiga; Biasakan menilai dan mempertajam kontrol terhadap diri sendiri.
Seseorang yang takjub dengan pribadi Hasan Al-Bishri pernah bertannya, “Siapa yang mendidikmu memiliki pribadi seperti ini?” Hasan Al-Bishri menjawab pendek. “Diriku sendiri”. “bagaimana bisa seperti itu?” Tanya orang itu lagi. Hasan menguraikan, “Jika aku melihat keburukan pada orang lain, aku berusaha menghindarinya. Jika aku melihat kebaikan pada orang lain, aku berusaha mengikutinya. Dengan begitulah aku mendidik diriku sendiri…”

Sikap Ulama sholih generasi tabi’in itu jelas menekankan pentingnya seseorang mengambil pelajaran sebuah peristiwa. Teorinya sederhana, meniru yang baik dan menghindari yang tidak baik. Tapi hasilnya, prinsip itulah yang menghadirkan pribadi yang menakjubkan. Apa yang melatarbelakangi Hasan Al-Bashri berprinsip seperti itu? Tidak lain untuk menghindari kekeliruan masa lalu, baik yang dilakukan diri sendiri maupun orang lain. Itu kuncinya, sehingga dari hari ke hari ia selalu berupaya memperbaiki kepribadiannya

Keempat; Sadarilah bahwa belajar dari pengalaman akan menambahkedewasaan da kebijakan dalam menyikapi hidup.
Semakin banyak orang bercermin terhadap masa lalu, maka ia akan semakin bijaksana dalam menentukan langkah. Saat mendapat kelapangan, seseorang tidak mudah larut oleh kesenangan. Ia berfikir bahwa ada kalanya lapang dan ada kalanya sempit. Saat medapat kesulitan, ia juga tidak mudah hanyut. Karena ia berfikir bahwa kesulitan akan silih berganti dengan kemudahan dst. Perbandingan seperti ini membuat seorang mukmin tetap bersyukur apapun kondisi yang ia alami. Itulah variasi dan itulah wujud kesempurnaan hidup sehingga saling melengkapi. Tanpa sikap seperti ini orang akan mudah terkena peyakit jiwa. Mudah gelisah dan selalu merasa tidak puas. Ia bahkan sulit merasa bahagia karena selalu terombang ambing oleh dinamika hidup itu sendiri.

Kelima; Ketahuilah, bahwa dalam batas tertetu kesalahan dan kekelirua adalah lumrah.
Allah SWT tidak menciptakan manusia sempurna. Selalu saja ada manusia yang lebih disini dan kurang disana. Atau sebaliknya, lebih disana dan kurang disini. Sehingga prinsipnya jangan takut gagal dalam beramal. Tidak jarang, kegagalan dan kesalahan merupakan batu loncatan ke arah kebaikan. Setidaknya ia menjadi sprit untuk melakukan penebusan. Makna ini antara lain yang terkandung dalam pesan Rasulullah agar kita mengiringi segala keburukan yang kita lakukan dengan kebaikan. “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada. Dan ikutilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghaopus keburukan”. (HR.Bukhari dan Muslim)

Keenam; Selami sejarah orang-orang yang hidup di masa lalu.
Dengan mengetahui masa lalu, berarti seseorang memiliki modal informasi berharga sebagai bekal perjalanan yang ia lakukan di masa mendatang. Peristiwa apapun, baik dilakukan oleh sebuah generasi maupun orang per orang, harus menjadi cermin perbandingan melangkah ke depan. Kehidupan ini tak ubahnya cermin pengulangan masa lalu. Silih berganti antara keberhasilan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan, kebahagiaan dan kesediahan. Semua berputar dan berganti bagai pergantian siang dan malam. Firman Allah SWT, “Dan hari-hari itu kami pergilirkan di antara manusia…” (QS.Al Imran:140).

Itulah hikmah penjabaran sejarah perjuangan para Rosul dan Nabi yang tertuang dalam Al-Qur’an. Allah SWT membina mental perjuangan Rosulullah dan para sahabatnya melalui uraian panjang tentang perjuangan para Nabi dan Rosul sebelum mereka. Jejak sejarah perjuangan itulah yang akan menjadi rambu bagi umat manusia sepanjang zaman dalam menegakkan kebenaran.

Fir’aun hanya satu tokoh sejarah yang diungkapkan Al-Qura’an. Ia merupakan symbol penguasa yang melakukan kekejaman dan penindasan terhadap rakyat, sekaligus memusuhi ajaran Allah SWT yang dibawa oleh Nabiyullah Musa AS. Melihat sejarah sepak terjang Fir’aun, manusaia diajak mengerti bagaimana bahaya nya kejahatan yang datang dari sebuah kekuasaan. Lebih berbahaya dari kejahatan kriminal berupa pembunuhan atau perampokan. Kisah fir’aun juga memberi gambaran kepada para penegak kebenaran bahwa mereka aka selalu menghadapi gembong-gembong kejahatan. Karena setiap zaman memiliki ‘Fir’aun’ nya sendiri.

Ketujuh; Seringlah berdiskusi, bertukar pengalaman, saling menasehati dengan orang-orang sholih tentang berbagai fenomena hidup.
Seorang pemikir menyebutkan, “Manusia itu ibarat burung yang bersayap sebelah”. Tak mungkiin bisa terbang, jika ia tak memiliki sayap pasangannya. Maka, ia hanya bisa terbang kalau mau berpelukan erat-erat dan berkerjasama dengan orang lain. Begitulah analoginya, setiap orang memerlukan bantuan orang lain untuk bisa berhasil dalam hidup. Apa artinya?

Setiap orang harus saling memberi dan membantu satu sama lain. Rosulullah mengistilahkan hal ini dengan sabdanya “Setiap mukmin adalah cermin bagi saudaranya yang lain”. Cermin, sumber informasi paling akurat dan jujur tentang berbagai fenomena. Cermin tempat memperoleh penilaian tentang diri, kapanpun dan dimana pun. Cermin juga pandai menyimpan informasi hanya pada pihak yang langsung terkait dengan informasi itu.

Roda kehidupan takkan pernah berhenti bergulir. Hari demi hari terus berjalan. Tugas kita adalah memanfaatkan kesempatan hari ini untuk menyosong hari esok. Terlalu banyak pelajaran yang seharusnya membuat kita menjadi lebih baik dari yang terlah lalu. Terlalu banyak pelajaran yang seharusnya menjadikan kita berhati-hati dan berhitung matang untuk melangkah. Terlalu banyak peringatan untuk menyadarkan kita agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ingat, jangan sampai terantuk pada batu yg sama.